Rhisa Wijayanti (F1C012008)
FISIP - Ilmu Komunikasi
Universitas Jenderal Soedirman
CYBERSPACE DAN VIRTUAL REALITY
.......................................
Kata cyberspace
pertama kali digunakan oleh William
Gibson dalam novelnya, Neuromancer di tahun 1984, sebuah novel science
fiction. Novel tersebut mengisahkan individu-individu dapat menghubungkan
sistem syaraf mereka dengan jaringan komputer global dan membentuk sebuah
pengalaman yang disebut dengan virtual reality. Ide Gibson tentang cyberspace
kemudian mulai dipikirkan secara serius oleh Michael Benedikt, editor dari
Cyberspace : First Steps (1991), diikuti oleh ilmuwan-ilmuwan yang lain.
Seperti John Perry Barlow, Howard Rheingold dsb.
Apakah sesungguhnya cyberspace itu? Banyak definisi yang menjelaskan
tentang apa itu cyberspace. Namun secara umum, Howard Rheingold mendefinisikan cyberspace sebagai sebuah ruang
konseptual di mana kata-kata, human relations, data-data dsb dimanifestasikan
oleh individu dengan menggunakan computer-mediated
communication (CMC) (dalam Strate, 1996 : 4). CMC-menurut Chesebro dan
Bonsall- adalah setiap bentuk dari interaksi atau komunikasi antara manusia
dengan komputer dalam derajat di mana komputer atau pengguna berada dalam
kontrol (menggunakan program komputer untuk melakukan input, berbagi, mencari,
memanipulasi, menghasilkan output dan mentransmisikan informasi) (dalam Strate,
1996 : 6).
Dari penjelasan tersebut, cyberspace tidak identik dengan
CMC, namun lebih pada konteks di mana komunikasi berlangsung. Tak sama dengan
jaringan komputer, namun cyberspace adalah sebuah ruang yang diciptakan melalui
jaringan komputer tersebut.
CMC sebagai sebuah jaringan yang terhubung untuk
berkomunikasi dan berinteraksi memiliki dua bentuk, yaitu Asynchronous dan
Synchronous. Asynchronous adalah bentuk yang memungkinkan pesan dapat disimpan
dan tak harus dikonsumsi pada saat pesan itu diterima. Misalnya e-mail.
Sedangkan Synchronous adalah bentuk yang memungkinkan teks diterima secara
langsung. Misalnya adalah chat.
Sedangkan Virtual
Reality, seperti yang telah disinggung di atas adalah pengalaman yang
berada di dalam cyberspace. Terminologi ‘virtual’ mengacu pada esensi atau efek
dari sesuatu, bukan sesuatu yang nyata. IBM mulai menggunakan istilah ini pada
tahun 1960an untuk menjelaskan setiap hubungan non-fisik antara proses-proses
atau mesin-mesin, contohnya virtual memory (akses memory secara acak yang
disimulasikan dengan menggunakan disk drives).
Maka dapat disimpulkan bahwa Virtual Reality bukanlah
realitas faktual yang nyata, namun adalah sebuah simulasi yang memberikan efek
dan esensi dari realitas. Ilusi dari realitas itu dibentuk melalui komputer
oleh pengguna, layar komputer telah menciptakan realitas artifisial. Misalnya
saja, kita membaca buku elektronik. Kita memang membaca, namun kenyataannya
kita menyaksikan sebuah video image.
KOMUNITAS DALAM CYBERSPACE
Ada beberapa pengertian komunitas. Komunitas memiliki
definisi yang fungsional dan simbolik. Fungsional berarti komunitas adalah
sebuah tempat, artinya komunitas ditentukan oleh batas-batas fisik atau
lokalitas (coba anda renungkan kembali penjelasan komunitas sebagai
gemeinschaft dan gesselchaft). Sementara itu komunitas juga dikatakan sebagai
simbol. Simbol-simbol manusia dapat menanamkan makna tertentu pada komunitas
mereka. Menurut Anthony Cohen komunitas adalah konstruksi simbolik yang terdiri
dari kode-kode atau nilai-nilai tertentu yang membuat anggota dari suatu komunitas
memiliki identitas tertentu.
Komunitas virtual adalah komunitas-komuitas dengan makna,
menurut Calhoun (dalam Strate, 1996 : 210) cybercommunity adalah komunitas
sebagai kompleks ide dan sentimen. Partisipan dalam komunitas virtual akan
merasakan pengalaman dan makna yang sama dalam cybercommunity.
Bennedict Anderson, penulis buku Immagined Communities,
menjelaskan bahwa sebuah komunitas adalah imejiner karena dalam benak setiap
anggota komunitas hidup image tentang hubungan yang erat (communion) (dalam
Strate, 1996 : 211). Penjelasan Anderson ini tak disetujui oleh Howard
Rheingold dalam pandangannya tentang Komunitas virtual. Menurut Rheingold,
komunitas virtual tidaklah imajiner, namun sesuatu yang nyata. Rheingold
mengatakan bahwa cybercommunity adalah agregasi sosial yang muncul dari
internet ketika banyak orang melakukan diskusi yang cukup panjang disertai
dengan human feeling untuk membangun jaringan hubungan personal dalam
cyberspace. Jadi komunitas virtual adalah sesuatu yang nyata yang diberi makna
oleh para partisipan. Komunitas virtual adalah komunitas yang unik, karena
terhubungan oleh mesin, dalam hal ini adalah komputer.
KONSEP ‘NYATA’ vs ‘KONSEP ‘VIRTUAL’
Melihat penjelasan di atas, maka sesungguhnya bagaimanakah
sesungguhnya yang disebut sebagai komunitas dalam dunia maya (cybercommunity).
Apakah dapat kita katakan bahwa komunitas tersebut nyata, ataukah tidak nyata ?
Bagaimanakah menurut anda ?
Melihat kembali penjelasan dari Ferdinand Tonnies atau Georg
Simmel tentang apa yang di sebut sebagai komunitas sebagai sesuatu yang
teriikat oleh batasan lokasi, maka gambaran dari cybercommunity adalah tak
layak disebut sebagai komunitas. Komunitas dalam dunia maya tak terbatas secara
geografis, selain itu kontrol adalah berdasarkan pada kekuasaan, otoritas dan
dominasi. Namun Michael Benedikt menyatakan bahwa kontrol seperti undang-undang
juga dapat diaplikasikan di dalam cyberspace. Hanya karena kita tak dapat
melihatnya bukan berarti itu tak nyata (dalam Jones, 1999 : 212).
Beberapa teoritis mengatakan bahwa komunitas virtual adalah
tak nyata karena tak adanya manifestasi fisik dan setiap kontak yang terjadi
adalah artifisial. Namun, jika kita melihat komunitas sebagai simbol-di mana
manifestasi fisik tak lagi diperlukan dan substansi dan makna menjadi lebih
berarti-maka segala argumen yang menyebutkan bahwa virtual adalah tak nyata
menjadi tak penting lagi. Dalam cyberspace terdapat dimensi-dimensi simbolik,
demikian pula dengan cybercommunity. Realitas adalah konstruksi sosial, sehingga
tepat seperti yang disampaikan oleh Anderson bahwa komunitas itu hidup adalam
benak partisipan karena partisipan mendefinisikan dan memberi makna. Namun itu
tidak berarti komunitas hanya hidup dalam benak partisipan saja, namun juga
dalam koneksi antara apa yang menjadi konstruksi sosial dari para pengguna dan
CMC memfasiltasi representasi dari konstruksi-konstruksi tersebut. Jika kita
log on, dan membuat suatu hubungan dalam cyberspace dan kita yakin bahwa kita
telah menemukan suatu komunitas, maka hal itu adalah nyata untuk kita.
Antara komunitas nyata dan komunitas virtual tak ada lagi
perbedaan yang berarti. Apa yang terjadi dalam komunitas virtual juga terjadi
dalam komunitas nyata. Jika seseorang sedang offline, maka mereka akan melihat bahwa
komunitas yang terjalin secara online adalah virtual. Namun partisipan yang
sedang online akan merasa bahwa mereka berada dalam komunitas yang nyata. Inti
dari komunitas adalah komunikasi. Komunitas adalah nyata apakah itu berada
dalam lokalitas yang sama atau tidak.
Bagaimanakah menurut anda?
Referensi:
1. Lance Strate, et al.-ed., “Surveying The Electronics
Landscape : An Introduction to Communication and Communication and Cyberspace,”
Communication and Cybercspace (1996).
2. Steve Jones, ed., “There is a There There : Notes Toward a
Definition of cybercommunity” – Jan Fernback, Doing Internet Research :
Critical Issues and Methods of Examining The Net. (1999).
No comments:
Post a Comment