Saturday, March 22, 2014

Yang Nyata, Yang Maya, Yang Mana?

Rhisa Wijayanti (F1C012008)
FISIP - Ilmu Komunikasi
Universitas Jenderal Soedirman


CYBERSPACE DAN VIRTUAL REALITY
.......................................

Kata cyberspace pertama kali digunakan oleh William Gibson dalam novelnya, Neuromancer di tahun 1984, sebuah novel science fiction. Novel tersebut mengisahkan individu-individu dapat menghubungkan sistem syaraf mereka dengan jaringan komputer global dan membentuk sebuah pengalaman yang disebut dengan virtual reality. Ide Gibson tentang cyberspace kemudian mulai dipikirkan secara serius oleh Michael Benedikt, editor dari Cyberspace : First Steps (1991), diikuti oleh ilmuwan-ilmuwan yang lain. Seperti John Perry Barlow, Howard Rheingold dsb.

Apakah sesungguhnya cyberspace itu? Banyak definisi yang menjelaskan tentang apa itu cyberspace. Namun secara umum, Howard Rheingold mendefinisikan cyberspace sebagai sebuah ruang konseptual di mana kata-kata, human relations, data-data dsb dimanifestasikan oleh individu dengan menggunakan computer-mediated communication (CMC) (dalam Strate, 1996 : 4). CMC-menurut Chesebro dan Bonsall- adalah setiap bentuk dari interaksi atau komunikasi antara manusia dengan komputer dalam derajat di mana komputer atau pengguna berada dalam kontrol (menggunakan program komputer untuk melakukan input, berbagi, mencari, memanipulasi, menghasilkan output dan mentransmisikan informasi) (dalam Strate, 1996 : 6).

Dari penjelasan tersebut, cyberspace tidak identik dengan CMC, namun lebih pada konteks di mana komunikasi berlangsung. Tak sama dengan jaringan komputer, namun cyberspace adalah sebuah ruang yang diciptakan melalui jaringan komputer tersebut.
CMC sebagai sebuah jaringan yang terhubung untuk berkomunikasi dan berinteraksi memiliki dua bentuk, yaitu Asynchronous dan Synchronous. Asynchronous adalah bentuk yang memungkinkan pesan dapat disimpan dan tak harus dikonsumsi pada saat pesan itu diterima. Misalnya e-mail. Sedangkan Synchronous adalah bentuk yang memungkinkan teks diterima secara langsung. Misalnya adalah chat.

Sedangkan Virtual Reality, seperti yang telah disinggung di atas adalah pengalaman yang berada di dalam cyberspace. Terminologi ‘virtual’ mengacu pada esensi atau efek dari sesuatu, bukan sesuatu yang nyata. IBM mulai menggunakan istilah ini pada tahun 1960an untuk menjelaskan setiap hubungan non-fisik antara proses-proses atau mesin-mesin, contohnya virtual memory (akses memory secara acak yang disimulasikan dengan menggunakan disk drives).

Maka dapat disimpulkan bahwa Virtual Reality bukanlah realitas faktual yang nyata, namun adalah sebuah simulasi yang memberikan efek dan esensi dari realitas. Ilusi dari realitas itu dibentuk melalui komputer oleh pengguna, layar komputer telah menciptakan realitas artifisial. Misalnya saja, kita membaca buku elektronik. Kita memang membaca, namun kenyataannya kita menyaksikan sebuah video image.


KOMUNITAS DALAM CYBERSPACE

Ada beberapa pengertian komunitas. Komunitas memiliki definisi yang fungsional dan simbolik. Fungsional berarti komunitas adalah sebuah tempat, artinya komunitas ditentukan oleh batas-batas fisik atau lokalitas (coba anda renungkan kembali penjelasan komunitas sebagai gemeinschaft dan gesselchaft). Sementara itu komunitas juga dikatakan sebagai simbol. Simbol-simbol manusia dapat menanamkan makna tertentu pada komunitas mereka. Menurut Anthony Cohen komunitas adalah konstruksi simbolik yang terdiri dari kode-kode atau nilai-nilai tertentu yang membuat anggota dari suatu komunitas memiliki identitas tertentu.
Komunitas virtual adalah komunitas-komuitas dengan makna, menurut Calhoun (dalam Strate, 1996 : 210) cybercommunity adalah komunitas sebagai kompleks ide dan sentimen. Partisipan dalam komunitas virtual akan merasakan pengalaman dan makna yang sama dalam cybercommunity.

Bennedict Anderson, penulis buku Immagined Communities, menjelaskan bahwa sebuah komunitas adalah imejiner karena dalam benak setiap anggota komunitas hidup image tentang hubungan yang erat (communion) (dalam Strate, 1996 : 211). Penjelasan Anderson ini tak disetujui oleh Howard Rheingold dalam pandangannya tentang Komunitas virtual. Menurut Rheingold, komunitas virtual tidaklah imajiner, namun sesuatu yang nyata. Rheingold mengatakan bahwa cybercommunity adalah agregasi sosial yang muncul dari internet ketika banyak orang melakukan diskusi yang cukup panjang disertai dengan human feeling untuk membangun jaringan hubungan personal dalam cyberspace. Jadi komunitas virtual adalah sesuatu yang nyata yang diberi makna oleh para partisipan. Komunitas virtual adalah komunitas yang unik, karena terhubungan oleh mesin, dalam hal ini adalah komputer.


KONSEP ‘NYATA’ vs ‘KONSEP ‘VIRTUAL’

Melihat penjelasan di atas, maka sesungguhnya bagaimanakah sesungguhnya yang disebut sebagai komunitas dalam dunia maya (cybercommunity). Apakah dapat kita katakan bahwa komunitas tersebut nyata, ataukah tidak nyata ? Bagaimanakah menurut anda ?

Melihat kembali penjelasan dari Ferdinand Tonnies atau Georg Simmel tentang apa yang di sebut sebagai komunitas sebagai sesuatu yang teriikat oleh batasan lokasi, maka gambaran dari cybercommunity adalah tak layak disebut sebagai komunitas. Komunitas dalam dunia maya tak terbatas secara geografis, selain itu kontrol adalah berdasarkan pada kekuasaan, otoritas dan dominasi. Namun Michael Benedikt menyatakan bahwa kontrol seperti undang-undang juga dapat diaplikasikan di dalam cyberspace. Hanya karena kita tak dapat melihatnya bukan berarti itu tak nyata (dalam Jones, 1999 : 212).

Beberapa teoritis mengatakan bahwa komunitas virtual adalah tak nyata karena tak adanya manifestasi fisik dan setiap kontak yang terjadi adalah artifisial. Namun, jika kita melihat komunitas sebagai simbol-di mana manifestasi fisik tak lagi diperlukan dan substansi dan makna menjadi lebih berarti-maka segala argumen yang menyebutkan bahwa virtual adalah tak nyata menjadi tak penting lagi. Dalam cyberspace terdapat dimensi-dimensi simbolik, demikian pula dengan cybercommunity. Realitas adalah konstruksi sosial, sehingga tepat seperti yang disampaikan oleh Anderson bahwa komunitas itu hidup adalam benak partisipan karena partisipan mendefinisikan dan memberi makna. Namun itu tidak berarti komunitas hanya hidup dalam benak partisipan saja, namun juga dalam koneksi antara apa yang menjadi konstruksi sosial dari para pengguna dan CMC memfasiltasi representasi dari konstruksi-konstruksi tersebut. Jika kita log on, dan membuat suatu hubungan dalam cyberspace dan kita yakin bahwa kita telah menemukan suatu komunitas, maka hal itu adalah nyata untuk kita.
Antara komunitas nyata dan komunitas virtual tak ada lagi perbedaan yang berarti. Apa yang terjadi dalam komunitas virtual juga terjadi dalam komunitas nyata. Jika seseorang sedang offline, maka mereka akan melihat bahwa komunitas yang terjalin secara online adalah virtual. Namun partisipan yang sedang online akan merasa bahwa mereka berada dalam komunitas yang nyata. Inti dari komunitas adalah komunikasi. Komunitas adalah nyata apakah itu berada dalam lokalitas yang sama atau tidak.
Bagaimanakah menurut anda?

Referensi:
1. Lance Strate, et al.-ed., “Surveying The Electronics Landscape : An Introduction to Communication and Communication and Cyberspace,” Communication and Cybercspace (1996).
2. Steve Jones, ed., “There is a There There : Notes Toward a Definition of cybercommunity” – Jan Fernback, Doing Internet Research : Critical Issues and Methods of Examining The Net. (1999).

No comments:

Post a Comment