Saturday, April 19, 2014

ATM: Amati, Tiru, Modifikasi

Hi Folks, sekalian deh bikin entry baru lagi mumpung abis ngepost teknokom xixixi..
emmm gue mau berbagi jurus aja sih tapi gue gak abis berguru di padepokan ninjanya naruto kok apalagi padepokan silatnya abah rojali hehe *fufufu* 

Gue mau ngasih tau jurus andalan nih, ATM: Amati, Tiru, Modifikasi. Gue seneng banget ama ini jurus. Jurus onoh gak terlepas bagian dari proses belajar Trial and Error gaissss. Inovasi baru gak mungkin muncul dari kegagalan yang kita bikin sebelumnya. Orang yang takut gagal bukan bagian dari orang yang sukses.

Gue iseng aja suka buka tumblr, abisnya disana banyak banget ide-ide yang bisa dijadiin inspirasi buat bikin karya. Gambarnya, Quotenya, semuanya deh aku padanya...

Nah ini salah satu gambar gue dari gambar yang sebelumnya emang udah ada gambarnya dari si yang bikin gambar yang kerjaannya doyan gambar sesuatu yang bisa digambar. gue dapet isnpirasinya dari tumblr, terus gue modifikasi deh dan voila, seperti inilah penampakannya..


#BeraniMenggambar edisi PISANG GORENG.

Mas Wahyu Aditya Pengarang buku Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati ngadain sayembara iseng-iseng di akun twitternya @maswaditya dan yang terpilih bakal di polobek. Ini karya gue 'pisang goreng ala-ala sosialita', walaupun gak menang, yang penting #BeraniMenggambar =))


TERJEBAK DALAM 'BUDAYA' SERBA TEKNOLOGI

Do we control technology or does technology control us?
. . . . . . . . . .

Buy it, use it, break it, fix it,
Trash it, change it, mail – upgrade it,
Charge it, point it, zoom it, press it,
Snap it, work it, quick – erase it,
Write it, cut it, paste it, save it,
Load it, check it, quick – rewrite it,
Plug it, play it, burn it, rip it,
Drag and drop it, zip – unzip it,
Lock it, fill it, call it, find it,
View it, code it, jam – unlock it,
Surf it, scroll it, pause it, click it,
Cross it, crack it, switch – update it,
Name it, rate it, tune it, print it,
Scan it, send it, fax – rename it,
Touch it, bring it, pay it, watch it.
Technologic….


Guys, barusan itu adalah cuplikan lagu dari Pentatonix dalam lagunya yang berjudul ‘Daftpunk’. Usut punya usut, lagu tersebut memang menggambarkan kondisi kekinian dimana manusia telah dipermudah dan sangat dimanja oleh  kecanggihan teknologi.

Hanya berimajinasi, apa jadinya jika beberapa tahun kedepan semuanya bisa dilakukan hanya dengan satu ‘klik’ atau bahkan satu ‘touch’. Hanya cukup duduk mengahadap komputer, segala yang kita inginkan bisa terkabulkan dalam sekejap. Bekerja pun cukup menggunakan komputer. Menjadi trader ataupun web design cukup dikerjakan di rumah dengan bantuan internet. Untuk bertransaksi tinggal menggunakan E-Banking. Jika lapar tidak perlu repot memasak, langsung delivery order. Segala peralatan rumah tangga yang digunakan bahkan sudah modern, jadi mencuci, mengepel, menyapu cukup pakai remote saja. Home schooling kelak cukup dengan skype-an. Ingin bertemu teman, tidak perlu keluar rumah tinggal buka Facebook, Twitter, Line, BBM dsb. That’s it’s ….easy and simple life with technology. Apakah pemanjaan teknologi ini bisa menjadi suatu budaya bagi kita? Atau malah sudah menjadi budaya?

Dalam kajian budaya atau Cultural Studies (CS), konsep budaya dapat dipahami seiring dengan perubahan perilaku dan struktur masyarakat di Eropa pada abad ke-19. Perubahan ini atas dampak dari pengaruh teknologi yang berkembang pesat. Terminologi disiplin Kajian Budaya (Cultural Studies) menyajikan bentuk kritis atas definisi budaya yang mengarah pada “the complex everyday world we all encounter and through which all move” (Edgar, 1999: 102). Budaya secara luas adalah proses kehidupan sehari-hari manusia dalam skala umum, mulai dari tindakan hingga cara berpikir, sebagaimana konsep budaya yang dijabarkan oleh Kluckhohn. Pengertian ini didukung juga oleh Clifford Geertz, kebudayaan didefinisikan serangkaian aturan-aturan, resep-resep, rencana-rencana dan petunjuk-petunjuk yang digunakan manusia untuk mengatur tingkah lakunya.

Williams mendefinisikan konsep budaya menggunakan pendekatan universal, yaitu konsep budaya mengacu pada makna-makna bersama. Makna ini terpusat pada makna sehari-hari: nilai, benda-benda material/simbolis, norma. Kebudayaan adalah pengalaman dalam hidup sehari-hari: berbagai teks, praktik, dan makna semua orang dalam menjalani hidup mereka (Barker, 2005: 50-55). Kebudayaan yang didefinisikan oleh Williams lebih dekat ‘budaya’ sebagai keseluruhan cara hidup.

Antara budaya dan teknologi memang saling berkaitan erat. Budaya tidak bisa lepas dari teknologi, dan sebaliknya teknologi adalah sebuah bentuk dari produk budaya. Teknologi menjadi sebuah alat baru yang menentukan kelas seseorang. Pada kasus penerapan teknologi tinggi (high-tech), masyarakat di desa akan menyesuaikan diri dengan keberadaan teknologi tersebut. Hal ini akan berbeda keadaannya jika teknologi tersebut merupakan hasil dari proses berpikir masyarakat tersebut. Teknologi yang dihasilkan akan sesuai dengan kebutuhan dan masyarakat tidak akan menganut ideologi asing yang mungkin bertentangan dengan nilai-nilai yang ada di suatu daerah.

Manusia modern menurut Inkeles dan Smith adalah memiliki keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru, berorientasi ke masa sekarang dan masa depan, punya kesanggupan merencanakan, percaya bahwa manusia bisa mengendalikan alam dan bukan sebaliknya dll. Hal ini terlihat dari teknologi-teknologi tinggi karya manusia modern yang pada umumnya memiliki sistem kontrol untuk menegaskan kekuasaan manusia. Adanya dikotomi manusia modern dan manusia tradisional juga berdampak dari gaya hidup kedua kelompok tersebut. Teknologi sebagai buah budaya manusia modern secara langsung memiliki sifat sama dengan manusia modern. 

Teknologi kini sudah bukan menjadi hal yang tabu lagi. Di kehidupan sekarang pun, hidup serasa kurang lengkap tanpa hadirnya teknologi. Banyak dari teman-teman saya yang mengatakan bahwa sehari saja tidak menggunakan handphone rasanya seperti setengah hidup,  kosong, saya pun begitu. Inilah dimana teknologi sudah menjadi budaya. Kita telah belajar menggunakan handphone, lama-kelamaan menjadi kebiasaan dan menjadi kebutuhan primer yang sulit untuk kita lepaskan dari kehidupan sehari-hari. Kebiasaan ini lah yang menjadikan budaya dalam memaknai teknologi itu sendiri.

Sebenarnya kita sedang berada pada ‘ketertinggalan’ yang diciptakan oleh buaian teknologi canggih sehingga masyarakat kita kurang berupaya untuk berinovasi dalam menciptakan teknologi yang sesuai dengan kultur budaya kita sendiri. Kita terus menerus menggantungkan diri pada teknologi-teknologi canggih buatan Negara maju sehingga inilah yang akan membuat Negara kita terus berkembang, ya berkembang. Kita terlalu sering mengadopsi teknologi tinggi sehingga menyebabkan tingkat ketergantungan terhadap negara maju semakin tinggi.

Teknologi memang baik, bahkan sangat baik. Segala aktivitas bisa dengan mudahnya kita jangkau dengan waktu yang singkat. Sekedar usul, jangan lupakan juga untuk mengatasi kecanduan kita yang doyan akan teknologi asing. Kita harus mampu menciptakan teknologi yang berasal dari akar rumput kita sendiri sehingga akan sesuai dengan kebutuhan kultur budaya kita. Dengan begitu, mungkin suatu saat Indonesia bisa maju dengan caranya sendiri.

Salam Teknologi! Lapan enam, roger…



Reference:
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of New Media : Social Shaping and Social Consequences of ITCs, Sage Publication Ltd. London.
http://ahmadfatoniofficial.wordpress.com/2010/04/27/cultural-studies/
http://sosbud.kompasiana.com/2010/07/21/konsep-budaya-dalam-kajian-budaya-cultural-studies-200323.html
http://www.azlyrics.com/lyrics/pentatonix/daftpunk.html (Pentatonix Lyric, Daftpunk)

- Rhisa Wijayanti, F1C012008