Saturday, April 19, 2014

ATM: Amati, Tiru, Modifikasi

Hi Folks, sekalian deh bikin entry baru lagi mumpung abis ngepost teknokom xixixi..
emmm gue mau berbagi jurus aja sih tapi gue gak abis berguru di padepokan ninjanya naruto kok apalagi padepokan silatnya abah rojali hehe *fufufu* 

Gue mau ngasih tau jurus andalan nih, ATM: Amati, Tiru, Modifikasi. Gue seneng banget ama ini jurus. Jurus onoh gak terlepas bagian dari proses belajar Trial and Error gaissss. Inovasi baru gak mungkin muncul dari kegagalan yang kita bikin sebelumnya. Orang yang takut gagal bukan bagian dari orang yang sukses.

Gue iseng aja suka buka tumblr, abisnya disana banyak banget ide-ide yang bisa dijadiin inspirasi buat bikin karya. Gambarnya, Quotenya, semuanya deh aku padanya...

Nah ini salah satu gambar gue dari gambar yang sebelumnya emang udah ada gambarnya dari si yang bikin gambar yang kerjaannya doyan gambar sesuatu yang bisa digambar. gue dapet isnpirasinya dari tumblr, terus gue modifikasi deh dan voila, seperti inilah penampakannya..


#BeraniMenggambar edisi PISANG GORENG.

Mas Wahyu Aditya Pengarang buku Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati ngadain sayembara iseng-iseng di akun twitternya @maswaditya dan yang terpilih bakal di polobek. Ini karya gue 'pisang goreng ala-ala sosialita', walaupun gak menang, yang penting #BeraniMenggambar =))


TERJEBAK DALAM 'BUDAYA' SERBA TEKNOLOGI

Do we control technology or does technology control us?
. . . . . . . . . .

Buy it, use it, break it, fix it,
Trash it, change it, mail – upgrade it,
Charge it, point it, zoom it, press it,
Snap it, work it, quick – erase it,
Write it, cut it, paste it, save it,
Load it, check it, quick – rewrite it,
Plug it, play it, burn it, rip it,
Drag and drop it, zip – unzip it,
Lock it, fill it, call it, find it,
View it, code it, jam – unlock it,
Surf it, scroll it, pause it, click it,
Cross it, crack it, switch – update it,
Name it, rate it, tune it, print it,
Scan it, send it, fax – rename it,
Touch it, bring it, pay it, watch it.
Technologic….


Guys, barusan itu adalah cuplikan lagu dari Pentatonix dalam lagunya yang berjudul ‘Daftpunk’. Usut punya usut, lagu tersebut memang menggambarkan kondisi kekinian dimana manusia telah dipermudah dan sangat dimanja oleh  kecanggihan teknologi.

Hanya berimajinasi, apa jadinya jika beberapa tahun kedepan semuanya bisa dilakukan hanya dengan satu ‘klik’ atau bahkan satu ‘touch’. Hanya cukup duduk mengahadap komputer, segala yang kita inginkan bisa terkabulkan dalam sekejap. Bekerja pun cukup menggunakan komputer. Menjadi trader ataupun web design cukup dikerjakan di rumah dengan bantuan internet. Untuk bertransaksi tinggal menggunakan E-Banking. Jika lapar tidak perlu repot memasak, langsung delivery order. Segala peralatan rumah tangga yang digunakan bahkan sudah modern, jadi mencuci, mengepel, menyapu cukup pakai remote saja. Home schooling kelak cukup dengan skype-an. Ingin bertemu teman, tidak perlu keluar rumah tinggal buka Facebook, Twitter, Line, BBM dsb. That’s it’s ….easy and simple life with technology. Apakah pemanjaan teknologi ini bisa menjadi suatu budaya bagi kita? Atau malah sudah menjadi budaya?

Dalam kajian budaya atau Cultural Studies (CS), konsep budaya dapat dipahami seiring dengan perubahan perilaku dan struktur masyarakat di Eropa pada abad ke-19. Perubahan ini atas dampak dari pengaruh teknologi yang berkembang pesat. Terminologi disiplin Kajian Budaya (Cultural Studies) menyajikan bentuk kritis atas definisi budaya yang mengarah pada “the complex everyday world we all encounter and through which all move” (Edgar, 1999: 102). Budaya secara luas adalah proses kehidupan sehari-hari manusia dalam skala umum, mulai dari tindakan hingga cara berpikir, sebagaimana konsep budaya yang dijabarkan oleh Kluckhohn. Pengertian ini didukung juga oleh Clifford Geertz, kebudayaan didefinisikan serangkaian aturan-aturan, resep-resep, rencana-rencana dan petunjuk-petunjuk yang digunakan manusia untuk mengatur tingkah lakunya.

Williams mendefinisikan konsep budaya menggunakan pendekatan universal, yaitu konsep budaya mengacu pada makna-makna bersama. Makna ini terpusat pada makna sehari-hari: nilai, benda-benda material/simbolis, norma. Kebudayaan adalah pengalaman dalam hidup sehari-hari: berbagai teks, praktik, dan makna semua orang dalam menjalani hidup mereka (Barker, 2005: 50-55). Kebudayaan yang didefinisikan oleh Williams lebih dekat ‘budaya’ sebagai keseluruhan cara hidup.

Antara budaya dan teknologi memang saling berkaitan erat. Budaya tidak bisa lepas dari teknologi, dan sebaliknya teknologi adalah sebuah bentuk dari produk budaya. Teknologi menjadi sebuah alat baru yang menentukan kelas seseorang. Pada kasus penerapan teknologi tinggi (high-tech), masyarakat di desa akan menyesuaikan diri dengan keberadaan teknologi tersebut. Hal ini akan berbeda keadaannya jika teknologi tersebut merupakan hasil dari proses berpikir masyarakat tersebut. Teknologi yang dihasilkan akan sesuai dengan kebutuhan dan masyarakat tidak akan menganut ideologi asing yang mungkin bertentangan dengan nilai-nilai yang ada di suatu daerah.

Manusia modern menurut Inkeles dan Smith adalah memiliki keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru, berorientasi ke masa sekarang dan masa depan, punya kesanggupan merencanakan, percaya bahwa manusia bisa mengendalikan alam dan bukan sebaliknya dll. Hal ini terlihat dari teknologi-teknologi tinggi karya manusia modern yang pada umumnya memiliki sistem kontrol untuk menegaskan kekuasaan manusia. Adanya dikotomi manusia modern dan manusia tradisional juga berdampak dari gaya hidup kedua kelompok tersebut. Teknologi sebagai buah budaya manusia modern secara langsung memiliki sifat sama dengan manusia modern. 

Teknologi kini sudah bukan menjadi hal yang tabu lagi. Di kehidupan sekarang pun, hidup serasa kurang lengkap tanpa hadirnya teknologi. Banyak dari teman-teman saya yang mengatakan bahwa sehari saja tidak menggunakan handphone rasanya seperti setengah hidup,  kosong, saya pun begitu. Inilah dimana teknologi sudah menjadi budaya. Kita telah belajar menggunakan handphone, lama-kelamaan menjadi kebiasaan dan menjadi kebutuhan primer yang sulit untuk kita lepaskan dari kehidupan sehari-hari. Kebiasaan ini lah yang menjadikan budaya dalam memaknai teknologi itu sendiri.

Sebenarnya kita sedang berada pada ‘ketertinggalan’ yang diciptakan oleh buaian teknologi canggih sehingga masyarakat kita kurang berupaya untuk berinovasi dalam menciptakan teknologi yang sesuai dengan kultur budaya kita sendiri. Kita terus menerus menggantungkan diri pada teknologi-teknologi canggih buatan Negara maju sehingga inilah yang akan membuat Negara kita terus berkembang, ya berkembang. Kita terlalu sering mengadopsi teknologi tinggi sehingga menyebabkan tingkat ketergantungan terhadap negara maju semakin tinggi.

Teknologi memang baik, bahkan sangat baik. Segala aktivitas bisa dengan mudahnya kita jangkau dengan waktu yang singkat. Sekedar usul, jangan lupakan juga untuk mengatasi kecanduan kita yang doyan akan teknologi asing. Kita harus mampu menciptakan teknologi yang berasal dari akar rumput kita sendiri sehingga akan sesuai dengan kebutuhan kultur budaya kita. Dengan begitu, mungkin suatu saat Indonesia bisa maju dengan caranya sendiri.

Salam Teknologi! Lapan enam, roger…



Reference:
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of New Media : Social Shaping and Social Consequences of ITCs, Sage Publication Ltd. London.
http://ahmadfatoniofficial.wordpress.com/2010/04/27/cultural-studies/
http://sosbud.kompasiana.com/2010/07/21/konsep-budaya-dalam-kajian-budaya-cultural-studies-200323.html
http://www.azlyrics.com/lyrics/pentatonix/daftpunk.html (Pentatonix Lyric, Daftpunk)

- Rhisa Wijayanti, F1C012008

Saturday, April 12, 2014

NEW MEDIA SEBAGAI 'SUPPORTING SYSTEM' DALAM SEBUAH KELOMPOK KERJA


Guys, tau gak sih? di zaman yang udah mengglobal gini udah semakin merebak dan mewabah teknologi-teknologi canggih nan instan yang biasa dikenal dengan sebutan New Media. Apa sebenarnya New Media itu? New Media terdiri dari 2 kata yaitu New dan Media. New yang berarti Baru dan Media yang berarti Perantara. Jadi New Media merupakan Sarana perantara yang baru. Baru dalam arti disini dilihat dari segi waktu, manfaat, produksi, dan distribusinya. New Media juga dapat disebut sebuah istilah yang dimaksudkan untuk mencakup kemunculan digital, komputer, atau jaringan teknologi informasi dan komunikasi di akhir abad ke-20. Sebagian besar teknologi yang digambarkan sebagai "media baru" adalah digital, seringkali memiliki karakteristik dapat dimanipulasi, bersifat jaringan, padat, interaktif dan tidak memihak. Beberapa contoh New Media adalah Internet, website, komputer multimedia, permainan komputer, CD-ROMS, dan DVD.

Dalam konteks komunikasi, media merupakan alat sarana yang digunakan dalam berlangsungnya proses komunikasi. Cangara (2006) menyatakan bahwa media merupakan alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. Pendapat yang sama disampaikan oleh Vardiansyah (2004) yang menyatakan bahwa media merupakan bentuk jamak dari medium-medium komunikasi yang diartikan sebagai alat perantara yang sengaja dipilih komunikator untuk menghantarkan pesannya agar sampai ke komunikan. Jadi, unsur utama dari media komunikasi adalah pemilihan dan   penggunaan alat perantara yang dilakukan komunikator dengan sengaja. Artinya, hal ini mengacu kepada pemilihan dan penggunaan teknologi media komunikasi.

Media komunikasi dapat diterjemahkan sebagai semua sarana yang dipergunakan untuk memproduksi, mereproduksi, mendistribusikan atau menyebarkan dan menyampaikan informasi. Media komunikasi sangat berperan dalam kehidupan masyarakat. McQuail (2006) memberikan gambaran bahwa media sesungguhnya merupakan sebuah "industri budaya" karena media telah menjadikan semua produk kultural masyarakat sebagai komoditi yang bisa dibeli konsumer demi kepuasan psikologis, hiburan dan dugaan-dugaan ilutif yang mengaburkan seperti apa struktur sosial sesungguhnya dan subordinasi kita didalamnya.

New media merupakan perkembangan dari media-media yang telah digunakan manusia. Keberadaan new media didasari oleh pemikiran modernis pada perkembangan sosial yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang merubah ke arah perkembangan sosial modern. New media  hadir dalam beragam bentuk dan varian yang dibangun dan disesuaikan  pada kebutuhan penggunanya. Listen, Dovey, Sidding dan Kelly dalam Prabowo (2011) mengungkapkan terdapat beberapa bentuk hasil produksi dimana terdapat perubahan bentuk yang dihasilkan dan dimediasikan oleh perkembangan tekhnologi diantaranya:

- Computer Mediates Communication : email, ruang chat, forum komunikasi yang dimediasikan oleh avatar, situs jejaring sosial, transmisi gambar/video dan suara, the World Wide Web, blog dan gadget pintar lain yang memiliki fasilitas koneksi komunikasi.

- New ways of distriuting and consuming: dimana teks media yang dikarakteristrikan oleh interaksivitas dan format hypertekstual seperti The World Wide Web, Cd, DVD, podchast dan beberapa platform dari video game.

-Vitual "realities" : lingkungan yang tersimulasikan dan ruang representasional yang kemudian membentuk dunia baru yang mengadopsi dari dunia yang sebenarnya

- A whole range of transformation and dislocations of establihed media : sebagai contoh fotografi, animasi, levisi, jurnalisme film dan sinema.

Dari beragam bentuk media yang disebutkan salah satu bentuk media yang membawa perubahan yang sangat signifikan dalam perubahan sosial, budaya dan pola komunikasi masyarakat adalah computer mediated communication atau komunikasi yang dimediasikan oleh komputer yang perkembangannya sangat ditentukan oleh perkembangan internet yang kemudian disebut sebagai new media, guys.

Munculnya media baru tidak hanya sebagai saluran tetapi juga sebagai agen dalam kelompok mengemudi atau mengatur proses keputusan kelompok dengan dinamis dalam penataan interaksi kelompok (Kontraktor, 2002; DeSannis dan Gallupe, 1987). Perkembangan ini telah memicu pergeseran dalam konseptualisasi kelompok dari gagasan tradisional 'waktu yang sama, tempat yang sama' menjadi 'setiap saat, di mana saja dan, sebagian orang akan berpendapat yang sebenarnya masih bisa diragukan kebenarannya'.
Dengan hadirnya new media terutama dalam sebuah kelompok kerja, kelompok itu sendiri dapat terorganisir dengan lebih efektif dan efisien. Selain itu dengan teknologi yang kian hari semakin berkembang membuat tidak adanya lagi batas-batas mengenai tempat, waktu dan juga besar kecilnya kelompok yang terbentuk (sense of group). Sehingga sangat memungkinkan untuk sebuah kelompok kerja meningkatkan kinerja dalam pekerjaannya.

Sangat kontras sekali terlihat perbedaan dimana kelompok yang berada sebelum dan sesudah hadirnya internet sebagai salah satu contoh bentuk dari new media. Terlihat jelas pada ruang gerak dan waktu yang berbeda dan juga karakteristik dalam kelompok itu sendiri. Kelompok kerja yang sudah terorganisir dengan supporting system akan terbantu dalam membentuk sebuah kinerja yang baik karena didalamnya terdapat pola ataupun sistem yang secara bahasanya dapat 'me-manage' dengan cara yang melingkupi: komunikasi, informasi, interaksi dengan pihak luar dan juga performance dalam bekerja.

Munculnya kelompok-kelompok atau komunitas di internet memang bukanlah suatu hal asing lagi bagi kita sekarang ini. Banyak sekali kelompok-kelompok unik tertentu yang menggunakan internet sebagai wadah kelompok kerja mereka, yang kemudian disebut kelompok kerja virtual. Kelompok kerja virtual adalah suatu kelompok yang menggunakan aktivitas virtual untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas tertentu. Ya, sebenarnya internet telah menyediakan berbagai media virtual untuk memudahkan kita dalam bekerja baik itu secara individu maupun kelompok. Apa saja? Dari mulai fasilitas e-mail, chatroom, bahkan media sosial sekalipun bisa dijadikan wadah kelompok kerja virtual, atau kelompok tersebut bisa membuat semacam jaringan sosial tersendiri untuk mereka yang digunakan untuk menuntaskan pekerjaan mereka.

Contoh nyatanya adalah ketika konser salah satu girlband korea yang digelar di Jakarta, semua akun atau fanbase dari yang menaungi penggemar di seluruh Indonesia, gencar menyebarkan informasi guna menuntastkan project mereka pada konser tersebut ketika konser diselenggarakan. Pada konser tersebut, para penggemar yang tergabung dalam kelompok pecinta girlband tersebut akan menampilkan sesuatu untuk artis kesayangan mereka tersebut. Alhasil mereka menggunakan sosial media untuk menuntaskan project mereka. Contoh lainnya adalah instansi pemerintah yang menggunakan web khusus untuk pegawainya menuntuskan pekerjaan mereka, web tersebut hampir sama dengan media sosial seperti facebook atau twitter hanya saja web tersebut hanya bisa digunakan oleh pegawai pada instansi tersebut, yang isinya fasilitas untuk bertukar pikiran dengan sesama kelompk kerjanya ataupun untuk mengunggah laporan hasil kerja.

terimakasih new media! xoxo


References:

Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of New 
Media : Social Shaping and Social Consequences of ITCs, Sage Publication Ltd. 
London. Pokok Bahasan : Culture Studies and Communication Technology

http://babehony.blog.fisip-untirta.ac.id/2013/12/27/new-media-dalam-perubahan-budaya-komunikasi-masyarakat/

http://gemaramadhanh.wordpress.com/2012/10/20/kelompok-kerja-virtual/


Saturday, March 29, 2014

KERANCUAN REMAJA KEKINIAN. DIMANAKAH REALITAS YANG SEBENARNYA?



Globalisasi, terakhir ini telah menimbulkan dampak yang sangat besar dalam dimensi kehidupan manusia. Dari perspektif optimis, globalisasi memang menjanjikan banyak peluang serta harapan bagi masyarakat dan Negara-negara dunia ketiga untuk mengejar ketertinggalannya dalam berbagai bidang dari Negara-negara maju. Namun jika kita telaah dari perspektif pesimis, globalisasi bagi sebagian orang merupakan sosok hantu yang menakutkan, Karena globalisasi akan berakibat buruk bagi distribusi kekayaan antar Negara, kesempatan kerja, peran Negara dan yang paling krusial adalah kebudayaan lokal.

Salah satu motor penggerak globalisasi yang paling efektif adalah teknologi komunikasi. Berkembang pesatnya teknologi, terutama di bidang komunikasi telah membawa suatu revolusi dari abad industri ke abad informasi. Kecepatan dalam berkomunikasi ini,pada gilirannya membuat perubahan- perubahan dalam kehidupan semakin cepat. Kebebasan dalam mendapatkan informasi hampir tiada batas, dan dunia pun semakin tidak berjarak.

Sehubungan dengan hal itu, munculah inovasi baru yang diklaim sebagai teknologi paling canggih yakni internet. Internet menawarkan berbagi bentuk sajian yang tidak saja fenomenal, tapi juga menggiurkan. Jika dilihat dari segi pragmatism, internet telah menyumbangkan banyak hal yang yang positif dan konstruktif. Karena di dunia maya ini adalah rimbanya berbagai macam informasi, berita, sampai ke persembahan ilmu, sains, teknologi, pendidikan, filsafat, dan masih banyak lagi.

…..tapi coba kita lihat realita sekarang ini

Sekelompok anak  remaja duduk di kafe. tidak ada suara lainnya yang dominan selain alunan musik dari speaker kafe, suara ketikan keyboard dan keypad. Ada yang sambil mendengarkan musik dan bermain game dengan laptopnya, ada yang tertawa sendiri sembari chatting, ada yang sedang ber-facebook ria. Disini memang ada komunikasi yang terjadi, namun tidak dengan komunikasi antarpribadi yang biasanya menjadi penanda berkumpulnya sekelompok anak remaja. Begitulah gambaran budaya anak remaja sekarang yang “berteman”dengan teknologi.

Teknologi, mendekatkan sekaligus menjauhkan kita. Teknologi diciptakan, awalnya sebagai perpanjangan dari indera manusia.  Telepon memudahkan kita untuk mendengar suara orang yang berada di ujung dunia lain. Chatting via internet memungkinkan kita untuk “berbincang” tanpa suara. Kita sudah tidak bisa membayangkan hidup kita tanpa komunikasi, tanpa media, dan tanpa teknologi. Kita sudah terjebak jauh di dalamnya secara tidak sengaja.

Ketika kita memasuki abad ke -21, rumah kita sudah ditransformasukan ke dalam situs budaya multimedia, mengintegrasikan audiovisual, informasi, dan pelayanan telekomunikasi. (Livingstone, 2002: 1). Hidup sudah dikelilingi dengan e-commerce, e-learning education, internet shopping, game online dan gaya hidup cyber lainnya. Hal ini memunculkan kekhawatiran mengenai bagaimana masa depan anak muda yang tumbuh di tengah “kehebohan” teknologi ini. Livingstone (2002) mengatakan bahwa ada spekuliasi mengenai ‘digital generation’, anak dalam ‘information age’, ‘computer nerds’, ‘innocent on the Net’, ‘the digital divide’, dan ‘addicted surfers’.

Teknologi dapat mengkaburkan batas antara kehidupan privat dan public. Facebook dengan “What’s on your mind?” nya mendesak penggunanya untuk menceritakan atau mencurahkan apa yang ada di pikirannya. Perasaan yang kadang merupakan sesuatu yang tidak merupakan santapan publik, mau tidak mau diberitahukan kepada orang lain. Tidak sedikit pula remaja yang sering mengungkapkan kebahagiaan, rasa sayang, kekesalan, dan bahkan rasa bencinya dengan media Facebook ini. Cara pengekspresian seperti ini lama kelamaan menjadi candu bagi para remaja ini. Daripada mengungkapkannya kepada teman, keluarga, atau orang yang bersangkutan, mereka lebih memilih “teman baru” mereka ini untuk berbagi.

Semua konsep di atas menunjukkan bagaimana seberapa dekatnya mereka dengan kehidupan virtual. Kehidupan pseudo-reality yang memungkinkan mereka untuk berkomunikasi, berteman, bersosialisasi, serta bermasyarakat dengan teman dan masyarakat semu nyata yang mereka temui di jendela computer mereka. Ketika bisa melakukan semua hal hanya dengan duduk di depan computer, tak usahlah perlu pergi ke luar kamar untuk bersosialisasi dengan teman, masyarakat, dan manusia asli.

Di area publik dan akademis, terdapat klaim yang muncul. Kaum pesimis meratapi akhir dari masa anak muda, nilai tradisional yang seharusnya mereka miliki. Media interaktif dilihat sebagai petanda munculnya gaya hidup individualistis dan privatisasi yang meningkatkan kemandirian terhadap konsumerisme ekonomi global dan kecenderungan untuk meremehkan budaya nasioal dan regulasi media nasional.  Bagi kaum optimis, adanya kesempatan bagi partisipasi demokratis dan partisipasi komunitas untuk kreativitas, ekspresi diri, dan demi tak terbatasnya pengetahuan yang ada dapat mendukung keberagaman, perbedaan, dan debat yang sehat (Livingstone, 2002:2).

Memang benar, zaman sudah semakin modern. Kita sekarang hidup di zaman yang memungkinkan kita untuk berada di dua realitas sekaligus dan menjadi dua orang yang berbeda sama sekali. Atau bahkan, malah mungkin diantara kita ada yang merasa hidup di lebih dari dua dunia karena begitu banyak dunia yang kita hidupi, kadang konsep yang nyata sekalipun menjadi rancu dan susah memprioritaskan realitas mana yang lebih penting, kehidupan nyata kah atau bermain-main dengan realitas pengganti, yaitu dunia maya. Tempat dimana kita bisa bersembunyi dengan bebas, nyaman dan aman. Para remaja bisa mengalami krisis identitas jika terlalu kecanduan pada dunia maya. Dunia online yang dinamis membuat kehidupan nyata dianggap membosankan sehingga kaum remaja tidak peduli lagi dengan kehidupan serta identitasnya di dunia nyata.

Di korea saja contohnya, karena asyiknya menjadi jagoan game online Starcarft selama 50 jam non-stop (tanpa istirahat dan makan) akhirnya seorang anak meninggal. Maksud hati ingin main terus-menerus supaya tidak game over, tapi kenyataannya malah si gamernya sendiri yang ‘game over’. Inilah salah satu yang terjadi karena kerancuan prioritas yang berakibat bencana di salah satu dunia yang mereka hidupi.


Nah, kalau sudah begitu jadi manakah duniamu yang sebenarnya?



References:
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of New
Media : Social Shaping and Social Consequences of ITCs, Sage Publication Ltd.
London. Chapter 4 : Perspective on Internet Use: Access, Involvement an Interaction

http://magisterkomuns09.wordpress.com/2010/07/04/remaja-digital-literasi-dan-etika-2/

http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/19/jtptiain-gdl-s1-2006-msyakiron3-947-BAB1_310-7.pdf

Provoke Magazine Vol. 5 - Surrogate Reality / Issue 47

Saturday, March 22, 2014

Surrogate Reality


"Kenapa sih kita pengen lari dari kenyataan? Pertanyaan simple dengan jawaban yang gak bisa simple. Tapi pada dasarnya sih kenyataan dengan problemanya itu terkadang berasa berat dan membuat diri ingin kabur dan menjadi orang lain. Kemunculan dunia maya ini lah yang akhirnya menjadi solusi sebagai media distraksi banyak orang. Menariknya, kita bisa jadi apa dan siapa aja yang kita mau disini, mau ganti nama, ganti muka, ganti keahlian, ganti pasangan, bebaaaaassssss, gak ada yang larang. Beribu-ribu topeng bisa lo pasang di muka lo, tapi selama apa kita mau hidup dengan topeng? Selama apa sih kita bisa berteriak-teriak dengan avatar gaya Pocosizeme, Parampaa atau Southpark? Berani gak kita buat nunjukin diri kita kayak di dunia nyata atau sebaliknya? ......berani lari dari kenyataan harusnya berani juga lari dari kemayaan bukan?"
-Provoke! Magazine / Vol.5

Team "Lorde" Lyric



Wait 'til you’re announced
We’ve not yet lost all our graces
The hounds will stay in chains
Look upon your greatness
That you’ll send the call out
(Send the call out [15x])

Call all the ladies out
They’re in their finery
A hundred jewels on throats
A hundred jewels between teeth
Now bring my boys in
Their skin in craters like the moon
The moon we love like a brother, while he glows through the room

Dancin' around the lies we tell
Dancin' around big eyes as well
Even the comatose they don’t dance and tell

[Chorus]
We live in cities you'll never see on screen
Not very pretty, but we sure know how to run things
Living in ruins of a palace within my dreams
And you know, we're on each other's team

I'm kind of over getting told to throw my hands up in the air, so there
So all the cups got broke shards beneath our feet but it wasn’t my fault
And everyone’s competing for a love they won't receive
'Cause what this palace wants is release

[Chorus]
We live in cities you'll never see on screen
Not very pretty, but we sure know how to run things
Living in ruins of a palace within my dreams
And you know, we're on each other's team

I’m kind of over getting told to throw my hands up in the air
So there
I’m kinda older than I was when I revelled without a care
So there

[Chorus]
We live in cities you'll never see on screen
Not very pretty, but we sure know how to run things
Living in ruins of a palace within my dreams
And you know, we're on each other's team
We're on each other's team
And you know, we're on each other's team
We're on each other's team
And you know, and you know, and you know